Breaking News

Kabut Asap Makin Pekat, Muaro Jambi Dilanda Kemarau Panjang, PAUD hingga SMP Kembali Daring


Gambar Ai

JAWARAPERS.COM,MUARO JAMBI – Kabupaten Muaro Jambi kembali menghadapi kondisi memprihatinkan akibat kabut asap yang semakin pekat. Memasuki Selasa (15/9/2026), asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah, sementara kondisi kemarau panjang membuat lahan semakin kering dan rentan terbakar.

Kondisi kualitas udara di Muaro Jambi bahkan telah masuk kategori sangat tidak sehat. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Muaro Jambi tercatat 183,3 mikrogram per meter kubik pada pukul 04.00 WIB, berada pada kategori sangat tidak sehat.

Kondisi tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan karena asap bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.

Sekolah Kembali Belajar dari Rumah

Memburuknya kualitas udara akhirnya kembali berdampak terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi.

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi menghentikan sementara pembelajaran tatap muka bagi peserta didik PAUD, TK, SD hingga SMP. Kebijakan tersebut berlaku mulai Selasa 15 September hingga Kamis 17 September 2026, dengan kegiatan belajar dilaksanakan secara daring dari rumah.

Keputusan ini menjadi langkah antisipasi untuk melindungi anak-anak dari paparan asap karhutla yang semakin pekat.

Sebelumnya, kebijakan pembelajaran daring juga sempat diterapkan di Muaro Jambi ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan pada awal September, kualitas udara Muaro Jambi dilaporkan berada pada kisaran 172 hingga 249 dan mendorong penghentian sementara pembelajaran tatap muka.

Kemarau Panjang Memperparah Kondisi

Persoalan kabut asap di Muaro Jambi tidak dapat dilepaskan dari kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang.

BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau di Jambi berlangsung pada Agustus hingga September 2026, dengan kondisi yang lebih kering sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.

Dampaknya mulai dirasakan langsung masyarakat. Di sejumlah wilayah Muaro Jambi, ketersediaan air bersih mengalami penurunan. Bantuan air bersih bahkan telah disalurkan kepada warga yang terdampak kekeringan di wilayah Kabupaten Muaro Jambi.

Kondisi lahan yang semakin kering juga membuat api lebih mudah menyebar ketika terjadi kebakaran. Sebelumnya, karhutla dilaporkan melanda sejumlah kecamatan di Muaro Jambi di tengah kondisi kemarau panjang.

Aktivitas Warga Ikut Terganggu

Kabut asap yang semakin pekat membuat aktivitas masyarakat ikut terdampak. Pengendara harus lebih berhati-hati karena jarak pandang dapat berkurang, sementara masyarakat yang bekerja di luar ruangan harus berhadapan langsung dengan udara yang tercemar.

Pedagang, petani, pekerja lapangan hingga pengendara sepeda motor menjadi kelompok yang cukup rentan terpapar asap dalam waktu lama.

Di lingkungan rumah tangga, orang tua juga kembali harus menyesuaikan aktivitas karena anak-anak harus mengikuti pembelajaran dari rumah.

Yang paling dikhawatirkan adalah dampaknya terhadap kesehatan. Paparan asap dan partikulat halus dapat memicu iritasi mata, batuk, tenggorokan terasa kering, hingga memperburuk gangguan pernapasan.

Muaro Jambi dalam Kepungan Asap dan Kekeringan

Kondisi saat ini memperlihatkan dua persoalan yang terjadi secara bersamaan: kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan dan karhutla yang menghasilkan kabut asap.

Ketika hujan belum turun secara merata dan lahan terus berada dalam kondisi kering, potensi kebakaran masih menjadi ancaman.

Masyarakat pun berharap penanganan karhutla terus diperkuat, tidak hanya ketika api sudah membesar, tetapi juga melalui pencegahan, patroli dan pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran.

Hari ini Muaro Jambi bukan hanya menghadapi udara yang semakin pekat oleh asap. Masyarakat juga harus berhadapan dengan kemarau panjang, berkurangnya sumber air, terganggunya aktivitas warga dan anak-anak yang kembali harus belajar dari rumah.

Kabut asap akhirnya bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah menjadi persoalan kesehatan, pendidikan dan kehidupan masyarakat Muaro Jambi.(Red-JWR) 

© Copyright 2022 - Redaksijawara